Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan atau suatu
daftar yang memuat secara rinci pendapatan dan pegeluaran pemerintahan negara
Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). APBN berisi daftar
sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara
selama satu tahun anggaran (1 Januari – 31 Desember). Tujuannya APBN yaitu sebagai
pedoman pemerintah dan pengeluaran Negara dalam melaksanakan kegiatan
kenegaraan untuk meningkatkan produksi dan kesempatan kerja dalam rangka
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran bagi masyarakat. Dan untuk
menghindari inflasi dan deflasi. Dengan adanya APBN dan APBD dapat diketahui arah, tujuan, serta prioritas
pembangunan yang akan dan sedang dilaksanakan. Dengan demikian peningkatan
pembangunan sarana dan prasarana ekonomi juga akan meningkatkan produktifitas
faktor – faktor produksi. Dengan peningkatan SDM yang dapat menerapkan
teknologi tinggi dalam proses produksi dan hasil – hasil produksi yang tidak
dikonsumsi akan meningkatkan tabungan masyarakat. Akhirnya peningkatan tabungan
akan meningkatkan investasi sehingga semakin banyak jasa yang tersedia bagi
masyarakat.
Defisit
anggaran negara adalah selisih antara penerimaan negara dan pengeluarannya yang
cenderung negatif, artinya bahwa pengeluaran negara lebih besar dari
penerimaannya. Para ahli ekonomi cenderung menghitung defisit anggaran negara
itu bukan dari angka absolut, tetapi mengukur dari rasio defisit anggaran
negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Apabila kita menghitung defisit
anggaran negara sebagai persentase dari PDB, maka akan mendapat gambaran berapa
persen suatu negara dapat menghimpun dana untuk menutup defisit tersebut.
Kecuali dengan menghitung besarnya
persentase defisit anggaran negara terhadap PDB, juga menggambarkan berapa
tingkat defisit itu sudah membahayakan keadaan perekonomian.
Dalam
situasi seperti sekarang ini, pelonggaran angka defisit wajar terjadi dan
memang mau tidak mau harus dilakukan. Persoalannya sekarang, pada kisaran angka
defisit berapakah yang bisa dijadikan acuan anggaran dan pastinya juga masih
dalam kendali. Persoalan defisit anggaran pada dasarnya selalu berkutat pada
sumber dana apa yang bisa digunakan untuk menutupi. Dari sisi pengeluaran,
pemerintah bisa melakukan efisiensi dengan jalan melakukan penghematan di luar
belanja rutin. Sementara itu, dari sisi penerimaan, ada dua opsi yang bisa
diambil, yaitu apakah menambah penerimaan dari pajak ataukah menambah utang
baru.
Untuk
mengatasi problem defisit anggaran ini, solusi universalnya ada 3 (tiga), yaitu
menambah pendapatan, mengurangi belanja dan berutang, baik utang luar negeri maupun
utang dalam negeri. Di negara – negara kapitalis, cara menambah pendapatan pada
umumnya adalah meningkatkan pajak dan kadang dengan mencetak matauang. Untuk
konteks Indonesia, cara yang ditempuh untuk mengatasi defisit anggaran adalah
meningkatkan pajak dan berutang.
Dalam
pembiayaan defisit APBN tersebut ada beberapa alternatif yang dapat digunakan,
diantaranya adalah dengan pinjaman (bond), suku bunga, uang dan lain - lain.
Pembiayaan defisit dari hutang memerlukan daya tarik yaitu dengan tingginya
imbal hasil (bunga) yang ditawarkan. Dampak dari suku bunga yang tinggi pada
sisi keuangan negara adalah akan terjadinya capital inflow. Keseimbangan APBN
dari pembiayaan hutang tidak selamanya berdampak positif bagi perekonomian,
meskipun defisit masih di bawah dari ketentuan undang – undang. Neoclasic dan
Keynes telah memberikan gambaran akibat bahwa pembiayaan defisit APBN dari
hutang yang didukung oleh tingkat suku bunga yang tinggi akan berbentuk
Crowding Out dan Crowding In. Pandangan Neoclasic menjelaskan bahwa ketika
pemerintah menerbitkan Bond sebagai salah satu cara untuk mengatasi defisit
APBN, maka akan terjadi perlambatan kegiatan ekonomi di masyarakat yang
disebabkan oleh bunga pinjaman yang harus dibayarkan meningkat akibat dari suku
bunga yang di tetapkan pemerintah mengalami kenaikan. Proses tersebut akan
berdampak pada pengalihan pinjaman dari dalam negeri ke luar negeri atau yang
disebut sebagai Crowding Out.
Dalam
usaha untuk meringankan beban anggaran negara dan memperbaiki posisi neraca
pembayaran, salah satu kebijakan yang ditempuh Pemerintah adalah melalui
pinjaman dana dari luar negeri. Seiring dengan adanya perubahan politik luar
negeri, utang luar negeri pemerintah sebagian besar diperoleh dari pinjaman
negara - negara blok Timur, seperti dari RRC dan USSR. Pada intinya utang dalam
negeri lebih aman karena risiko nilai tukar tidak banyak terpengaruh selama
pemerintah bisa mendesain surat utang yang baik dengan memperhatikan akses
likuiditas dari perbankan, maka perbankan akan membeli surat utang pemerintah
untuk menutupi defisit anggaran tersebut. Jumlah utang luar negeri Pemerintah
tersebut telah menambah berat beban Pemerintah bila diukur dengan kemampuan
membayar kembali baik dari sisi keuangan negara atau tersedianya devisa yang berasal
dari ekspor.
Kebijakan
Fiskal adalah langkah-langkah pemerintah untuk membuat perubahan-perubahan
dalam sistem pajak atau dalam perbelanjaannya dengan maksud untuk mengatasi
masalah-masalah ekonomi yang dihadapi.Kebijakan fiskal mempunyai berbagai bentuk,
salah satu bentuk kebijakan fiskal yang sedang marak adalah BLT. Banyak orang
melihat BLT hanya bantuan kepada orang yang kurang mampu. Sebenarnya di balik
itu ada tujuan khusus dari pemerintah. BLT diharapkan mampu meningkatkan
pendapatan masyarakat. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, daya beli
masyarakat juga meningkat. Dengan demikian permintaan dari masyarakat juga
meningkat. Meningkatnya permintaan dari masyarakat akan mendorong produksi yang
pada akhirnya akan memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia.Apabila
pemerintah dalam hal ini Departemen Keuangan, memperluas objek pajak, berarti
akan lebih banyak uang yang tersedot ke Pemerintah. Dalam kondisi perlambatan
ekonomi, menambah penerimaan pajak menjadi hal yang susah direalisasikan. Dengan
adanya stimulus fiskal, pajak ekspor dipastikan akan turun. Kenaikan pajak bisa
jadi akan dibebankan pada konsumen yang akan bermuara juga pada kenaikan laju
inflasi.
Kebijakan
yang selanjutnya adalah kebijakan moneter. Kebijakan moneter adalah kebijakan
dengan sasaran mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Jumlah uang yang beredar
dapat dipengaruhi oleh Bank Indonesia. Selain dengan langsung menambah atau
mengurangi jumlah uang yang beredar, mengatur jumlah uang yang beredar juga
bisa menggunakan BI Rate. BI rate adalah instrumen dari pemerintah untuk acuan
seberapa besar bunga simpanan jangka pendek, misalnya Surat Berharga Indonesia,
biasanya bank-bank umum akan menaikkan atau menurunkan suku bunganya seiring
dengan naik atau turunnya BI Rate. Maka dari itu, saat BI Rate diturunkan, suku
bunga kredit juga turun. Sehingga biaya investasi ikut turun. Dari sini,
diharapkan investasi meningkat. Kebijakan moneter juga berpengaruh dalam
perdagangan internasional dengan mengendalikan tarif ekspor impor. Jika tarif
impor naik, dorongan untuk impor berkurang. Jika tarif impor turun, dorongan
untuk impor bertambah dan harga barang-barang impor menjadi lebih murah.
Pemerintah
juga harus menghemat belanja barang dan pegawai. Selama ini belanja barang dan
jasa di instansi pemerintah cenderung boros dan tidak efektif. Seharusnya ada
upaya penghematan melalui pengurangan honor kegiatan birokrasi yang tidak
tepat.
Selanjutnya
kebijakan yang dimiliki pemerintah Indonesia adalah kebijakan sektoral. Kebijakan
ini menitikberatkan pada satu dari sembilan sektor perekonomian di Indonesia. Misalnya,
di sektor pertanian pemerintah memberikan subsidi pupuk. Subsidi ini diberikan
agar harga pupuk murah. Dengan demikian pupuk akan terdorong untuk dipakai. Contoh
lainnya adalah kebijakan di sektor industri. Di sektor ini pemerintah membuat
kebijakan kawasan ekonomi khusus. Kawasan ekonomi khusus adalah kawasan yang
khusus digunakan untuk pendirian industri. Misalnya, kawasan industri Cilacap.
kawasan ini mempunyai hak khusus, misalnya di Batam impor bahan mentah tidak
terkena pajak, sehingga hal ini akan mendorong produksi di sana.
Opsi
terakhir adalah menambah utang baru dari dalam negeri dengan menerbitkan
obligasi negara. Ada dua faktor yang perlu dipertimbangkan, pertamaprimary
balance adalah selisih antara anggaran penerimaan dan pengeluaran di luar bunga
dan cicilan utang. Kedua, rasio utang terhadap PDB yang konstan. Faktor-faktor
yang perlu dipenuhi dalam praktiknya memiliki kelemahan karena profil jatuh
tempo utang pemerintah diabaikan. Jika jatuh tempo utang terkonsentrasi pada
satu periode yang berdekatan dan primary balance surplus tidak mampu
mengimbangi, tekanan fiskal dari lonjakan pembayaran utang yang jatuh tempo
tidak bisa dihindari.
Sebagai
penutup,APBN yang sudah ditentukan hendaknya dipertanggung jawabkan oleh
pemerintah dengan melaksanakannya dengan transparan antar instansi terkait guna
memperbaiki kinerja pemerintahan yang akhir-akhir ini tidak mementingkan
kemakmuran rakyat.
Dan
dalam menjalankan perekonomian di Indonesia,pemerintah hendaknya mengambil
kebijakan yang lebih mementingkan kepentingan rakyat dibandingkan kepentingan
kelompok-kelompok tertentu. Dalam hal ini kaitannya dengan kebijakan fiskal dan
APBN. Dengan tekanan fiskal pada struktur APBN, sudah selayaknya kita mendukung
upaya efisiensi program Pemerintah serta pengembalian aset negara dari para
koruptor demi tercapainya upaya stabilisasi perekonomian nasional.
Referensi
:
http://id.wikipedia.org/wiki/Anggaran_Pendapatan_dan_Belanja_Negara